Selalu ada “Kesempatan”

Sekedar sharing pikiran, saya lagi baca bukunya Ippoh Santosa, “Marketing is Bullsh*t”. Saya tidak ingin membicarakan metode marketing beliau. Namun tertarik dengan beberapa pikiran beliau. Semoga ini bisa menggugah semangat dan kreatifitas kita dalam menjalani hidup ini.

Kalau saya tanya sama temen, “Bro, lo kan bisa ini-itu, koq gak jalanin usaha aja sih?” jawaban standard biasanya, “Ah, gue sih mau Man. Udah kepikiran kayak gitu, tapi gimana? Kesempatan gak ada, modal kagak ada”. Itu juga yg menghinggapi pikiran saya dulu. “Kemampuan untuk itu ada, tapi kesempatan gak ada”. Kebanyakan kita masih berpikir dengan rumus.

NASIB BAIK = KESEMPATAN = BERHASIL

Jadi kalo nasib baik, kesempatan nongol. Disaat itu kita baru bisa beraksi. Dulu bang Napi suka bilang “Kejahatan bisa teradi kalo ada niat dan kesempatan”. Sama kayak mentor pengajian saya, segala sesuatu itu bisa terjadi kalau ada “niat dan kesempatan”. Misalnya kita mau mencuri mobil, niat sudah ada, tapi gak ada kesempatan. Gak jadi nyuri deh, kenapa gak ada kesempatan? dijagain Hansip? Satpam? Pernah denger gak berita, Satpam yg ikut bekerja sama dg pencuri mobil? Si pencuri itu berarti sedemikian rupa meyakinkan Satpam komplek hingga dia jadi punya kesempatan.

Mungkin kita ada yg pernah nonton film “ENTRAPMENT” (Sean Connery & Catherine Zeta Jones), atau “Italian Job” (Mark Walbergh), atau yang cukup terkenal “Mission Impossible” (Tom Cruise)?? Itu dia, kalau kita masih berpikir bahwa kesempatan itu ada dg sendirinya, seperti angkot kadang-kadang lewat, kadang-kadang lama gak lewat-lewat. Saya rasa film-film itu terasa hambar dan membosankan, dan mereka sama sekali gak punya kesempatan untuk mencuri barang berharga dari lawan mereka dengan pengamanan yg sedemikian rupa canggih dan ketat. Bukannya saya ngajarin mencuri atau berbuat jahat yah hehehe… jangan salah diartikan lho?!

Mereka melakukan “membuat kesempatan”, karena mereka gak mau berspekulasi seperti mengunggu angkot yg kadang-kadang ada, kadang-kadang enggak. Belum lagi kalo angkotnya pas lewat penuh, gak bisa naik juga. Mereka membuat kesempatan, menciptakan kesempatan agar mereka bisa mencapai tujuannya. Mereka menggunakan kreatifitas untuk membuat kesempatan itu.

Analoginya begini, saya sering kali pulang malam dari kantor. Susahnya menunggu taxi kalau jam pulang kantor. Kesempatan saya mungkin 20 banding 1 atau lebih, dari 20 taxi lewat, mungkin satu yg kosong. Atau seringkali mereka kosong tapi gak mau berhenti. alasannya, arah yg saya tuju macet, biasanya mereka tau, kalo saya nunggu di situ, berarti kemungkinan besar mau ke arah situ. atau alasan lain, taxi-nya itu orderan orang. Pernah saya menunggu dari jam 18.30 sampai 21.30 masih belum dapat juga. Kalo saya teruskan, mungkin jam 12 malam saya baru pulang. Akhirnya saya pulang naik bajaj yg lewat, walau agak gemetaran paling enggak sampe ke rumah. Besoknya kejadian sama, saya jadi mikir… kalo saya nunggu di sini, emang deket, depan kantor persis. tapi ke arah sana, dan kebanyakan taxi itu gak mau brenti karena mereka sudah menduga saya ke arah sana tujuannya yang pasti macet jam segini. Saya coba liat jalur lain, jalan sedikit, jalur ini menuju daerah “three in one”, tidak macet, paling tidak, tidak separah jalur saya pulang. di ujung sana ada hotel borobudur dan terminal kereta tempat taxi mencari customer. pasti banyak penumpang. Di depan pun ada “U Turn” yang begitu dia berputar balik, langsung ke jalur tujuan saya. Saya coba jalan ke sana, betul saja, kesempatan itu jadi banyak mungkin 2 banding 1, 2 taxi yg lewat 1 yg kosong, bahkan kadang 2-3 taxi sekaligus kosong. Akhirnya saya gak mengulangi berdiri garing semalaman nunggu taxi. Dan cara ini saya gunakan terus kalau taxi lagi susah diberhentiin depan kantor persis.

Dari analogi ini, sama seperti yg Mas Ippoh bilang. Kesempatan itu “dibuat”. Kadang memang memerlukan “pengorbanan”, berbeda dengan kesempatan yang datang karena “sedang bernasib baik”. Jadi buatlah keberuntungan itu! mungkin kalau kita menunggu nasib, kesempatan baru terjadi 1.000.000 banding 1. Kalau begitu caranya Om Bob Sadino, Om Liem Soei Liong, Abraham Lincoln, Andrie Wongso, Mario Teguh, dll kita gak akan pernah kenal mereka, dan mereka gak akan menorehkan nama dalam sejarah. Mereka orang-orang yang tidak menunggu nasib baik menghampiri, mereka membuat KESEMPATAN itu… mereka membuat KEBERUNTUNGAN itu.

Katakanlah saya ingin membuka usaha, kalau saya berpikir kesempatan itu seperti “nasib baik”. Saya akan menunggu, seorang renta yg punya usaha besar, tidak punya anak satu pun, dan beberapa detik lagi meninggal lewat di depan saya dan dalam sekaratnya dia tulis siapa saja ahli waris dia yang ada dekat dia saat itu…. hahahaaha… kalau ini yg dinamakan kesempatan. Kita gak bakal lihat satu pun rumah makan di negri ini hihihihihi…. Namun tidak demikian, kita mempelajari prilaku manusianya, lingkungan, melakukan perhitungan. Kemudian kita bisa tau, bagaimana membuat “Kesempatan” itu muncul. Tukang bakso, tukang mie ayam, bahkan kita yg duduk di belakang meja ini setiap hari ngantor telah menciptakan kesempatan. Kita duduk bertahun-tahun di bangku kuliah, belajar ini-itu sesuai bidang yg kita minati dan berharap bekerja di bidang tersebut, walau ada beberapa yg beralih profesi dari background yg dimilikinya. Kenapa? Mereka melihat memiliki kesempatan yg lebih besar dg profesi lain itu daripada yg telah mereka buat sebelumnya.

Kalau kita telaah lagi diri kita, okay, saya yakin 80% bahkan 95% teman-teman saya ini adalah kreatif, bisa berkorban, dan bisa “membuat kesempatan”. Kita telah membuat kesempatan dg kreatifitas kita, dan melakukan pengorbanan untuk mencapainya. Menurut anda, “ah koq cuman segini-gini aja??” So? Kenapa gak buat kesempatan yg lebih besar? Anda sudah berhasil toh sebelumnya? Ciptakan kesempatan itu, buatlah keberuntungan itu.

Rumusnya sekarang ….

KREATIF = PENGORBANAN = KESEMPATAN = BERHASIL

Selamat bekerja dan berkreatifitas.
Mohon maaf kalau ada salah-salah kata.

About upmar102wong

Seorang Planner, Pengatur strategi, negosiator, consular, advisor, mentor, mediator. bangga dg istri yg cantik, pandai, solihah. dia seorang dokter. sekarang saya seorang Development Manager di suatu IT Consulting. Saya suka banget sama kungfu, saya belajar Pa'chi chuan dan Taichi chuan sejak 1998 dari seorang shifu dan seorang guru. saya suka main catur igo, suka baca, nonton film juga. suka bersahabat dg banyak org.
This entry was posted in Motivasi, Tips & Trik. Bookmark the permalink.

4 Responses to Selalu ada “Kesempatan”

  1. prb says:

    hidup enterpreneur! jadi target pensiun di umur berapa mas?😀

  2. Deff D'Blue says:

    Ko..Martin Saya Mau Tanya2 Tentang Beladiri TaijiQuan Nih Ko,,
    koko Pny FB gk?
    Thx

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s